|
Stuttgart: Berawal dari Kandang Kuda Oleh: Wahyuni Kamah
IBU
kota negara bagian Baden Wuerttemberg, Stuttgart, saat ini sibuk
bersolek. Kota kedelapan terbesar di Jerman ini memiliki hajat cukup
penting. Stuttgart sedang bersiap-siap menyambut Piala Dunia 2006
karena Stadion Daimler yang megah di Stuttgart akan menjadi salah satu
penyelenggara pertandingan sepak bola dunia saat Jerman menjadi tuan
rumah. Yang lebih penting lagi, pada tahun 2012, saat Jerman kembali
menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas, di Stuttgart-lah api
Olimpiade akan disulut. Dapat dibayangkan betapa sibuknya bila dua
perhelatan olahraga besar bertaraf internasional akan diadakan di kota
berpenduduk 588.000 jiwa ini. Meskipun
sibuk membangun, Stuttgart tidak kehilangan kesan "hijau"-nya. Dengan
topografinya yang sangat khas, Stuttgart tetaplah kota yang nyaman
dikunjungi, terletak di lembah dan dikelilingi deretan rumah-rumah dan
lahan-lahan anggur di tebingnya. Pemandangan hijau ini tampak jelas
bila kita berada di jantung kota. Selain itu, kota dengan luas kurang
lebih 400 kilometer persegi ini memiliki sekitar 11 taman hijau yang
tersebar di penjuru kota.
Hal itu cukup
kontras dengan kenyataan bahwa Stuttgart juga kota industri yang sangat
berpengaruh. Industri mobil Mercedes, Porsche, dan mesin Bosch
mengawali dan mengembangkan industrinya di kota ini. Dapat dikatakan
Daimler (sekarang Daimler-Chrysler) yang memproduksi Mercedes merupakan
pabrik mobil tertua di dunia.
Industri pula yang
membuka Stuttgart menjadi kota internasional dengan datangnya tenaga
kerja dari Italia, Turki, negara-negara Eropa Timur, dan juga beberapa
negara Afrika.
Namun, kota yang
hancur oleh bom Sekutu pada Perang Dunia II ini bukan semata-mata kota
industri. Dia juga kota seni dan budaya. Di kota inilah filsuf brilian
Hegel dilahirkan dan rumahnya sekarang menjadi museum yang memamerkan
karya dan riwayat karirnya. Di Stuttgart pula Schiller, pujangga
kawakan Jerman, pernah tinggal dan berkarya. Warga Stuttgart membangun
patung sang pujangga untuk menghormatinya dan pelataran tempat patung
didirikan dinamakan Schillerplatz.
Peternakan kuda
Saat musim
panas, Stuttgart sangat penuh warna. Agenda kota padat, berbagai
pertunjukan seni, musik, atau pameran terjadwal di berbagai museum,
galeri, dan pusat seni.
Bila cuaca cerah,
taman-taman kota yang bertebaran di Stuttgart ramai oleh warga kota dan
wisatawan. Di sana, mereka menikmati udara cerah, bersantai, membaca
buku, bercengkrama, bahkan berkencan.
Pusat kota atau
Innenstadt berada di jantung kota dan berjarak hanya beberapa ratus
meter dari stasiun kereta antarkota Stuttgart dan tepat berada di
stasiun trem dalam kota (stadtbahn) Schlossplatz. Gedung-gedung
bersejarah, museum, pusat seni, perpustakaan, galeri, pusat belanja,
dan pertokoan terletak saling berdekatan dan dapat dicapai dengan
berjalan kaki bila cuaca baik.
Nama Stuttgart tak bisa dilepaskan dari sejarahnya sebagai tempat peternakan kuda pada abad ke-10. Dari kata stutengarten, stute (kuda betina) dan garten (kebun), inilah nama Stuttgart berasal. Peninggalan stutengarten dapat dilihat di Altes Schloss.
Stuttgart
mendapatkan status kota pada abad ke-13 dan berkembang ketika Count of
Wurttemberg menjadikan Old Palace sebagai kediamannya. Kuda hitam
menjadi lambang Kota Stuttgart, bahkan perusahaan Porsche pun
memakainya sebagai simbol.
Old Palace sekarang
menjadi Museum Baden Wuerttemberg yang menyimpan dan memeragakan
peninggalan sejak zaman Paleolitikum hingga Romawi. Bangunan berlantai
tiga ini memiliki inner court dengan balkon terbuka dan luas di
setiap lantai. Arsitekturnya bergaya Renaisans. Di Old Palace juga
terdapat gereja Protestan pertama di Jerman Selatan yang tidak rusak
ketika Stuttgart dibom sehingga dekorasi serta arsitektur asli gereja
abad ke-16 masih dapat dilihat di gereja ini.
Bangunan monumental
lain adalah New Palace atau Neues Schloss yang jaraknya beberapa meter
dari Old Palace. Neues Schloss yang sangat megah ini terletak di tengah
kota di kawasan Schlossplatz. Dibangun pada abad ke-19 dan tidak usai
sekaligus, Neues Schloss pernah ditangani arsitek Perancis sehingga
arsitekturnya mencerminkan gaya Perancis. Sekarang Neues Schloss
menjadi kompleks kantor departemen keuangan dan departemen kebudayawan
dan pendidikan Baden Wuerttemberg yang modern. Bila kita berdiri di
tengah-tengah halamannya dan menghadap Neues Schloss dari kejauhan
tampak jelas lahan hijau serta rumah-rumah yang mengelilingi Stuttgart.
Masih di kawasan
Schlossplatz, bagi penggemar seni, House of Art, galeri seni Kota
Stuttgart, adalah tempat masyarakat seniman berpangkal sekaligus
memamerkan karya-karyanya. Di sebelah barat Schlossplatz terdapat
Koenigsbau, gedung panjang seperti lorong bergaya Paris dengan tulisan
Boerse di atasnya. Gedung yang dibangun pada pertengahan abad ke-19 ini
adalah Pasar Bursa Baden Wuerttemberg yang sekarang sudah pindah ke
tempat lain.
Sulit menemukan
bangunan asli di Stuttgart karena 90 persen Kota Stuttgart hancur saat
Perang Dunia II. Tidak heran, hampir semua bangunan bersejarah atau tua
di Stuttgart adalah hasil rekonstruksi, kecuali Opera House Stuttgart
yang sekarang juga sedang direnovasi sebagian.
Berjalan lebih ke
selatan adalah Schillerplatz. Saat musim panas, tiga kali seminggu
pelataran ini berubah menjadi pasar tradisional yang menyediakan aneka
buah, bunga, dan sayuran segar subtropis. Tentu saja, harganya sedikit
lebih mahal dibandingkan dari di pasar swalayan.
Di Schillerplatz
terdapat Fruchtkasten yang pada abad ke-17 menjadi gudang buah dan
sekarang berfungsi sebagai museum alat musik. Bersebelahan dengan
Fruchtkasten adalah Stiftkirche, gereja tertua dan terpenting di kota
Stuttgart yang dibangun pada abad ke-12. Warisan Gotik tampak pada
arsitektur gereja yang sedang dipugar ini. Menariknya, di sekitar
gereja itu tidak boleh ada bangunan yang tingginya melebihi menara
gereja setinggi 61 meter dan itu masih dipatuhi hingga sekarang.
Cuci mata
Bukan hanya bangunan tua yang ditemukan di Stuttgart, melangkahlah ke Konrad Adeneur Strasse yang dikenal sebagai the street of the culture.
Di antara bangunan-bangunan tua seperti Staatsgalerie yang menyimpan
karya Picasso di Jerman dan Perpustakaan Wilhelmspalais, terdapat
bangunan berarsitektur post-modern yang sedang dibangun. Bangunan
memukau yang dinamakan Neue Staatsgallerie ini dirancang arsitek asal
Inggris James Stirling. Konon, warga Stuttgart yang masih men-yukai
arsitek kuno kurang menyambut model bangunan abad ke-21 tersebut.
Kammertheater, Sekolah Tinggi Musik, Perpustakaan Negara Bagian Baden
Wuerttemberg hanya beberapa meter jaraknya satu sama lain.
Bagi yang senang
cuci mata, Koenigstrasse tidak boleh dilewatkan. Di kiri-kanan jalan
khusus pejalan kaki ini terdapat berbagai toko yang ditata elegan yang
menjual barang-barang bermerek internasional ataupun Jerman, selain
restoran, kedai es krim, kebab, serta beragam roti tentunya.
Hari Sabtu,
Koenigstrasse sangatlah padat dengan warga kota dan wisatawan yang
datang berbelanja atau sekadar jalan-jalan, karena hari Minggu semua
toko tutup. Restoran, kafe, atau kedai makanan terbuka yang bertebaran
di beberapa sudut ramai dikunjungi para pejalan kaki. Namun, saat
bersantap tidak ada gangguan sama sekali dari para pengamen, karena
para seniman jalanan beraksi di tempat-tempat tertentu, baik badut,
pantomim, pelukis, maupun kelompok kecil penyanyi.
Pejalan kaki pun
dibuat nyaman. Setiap beberapa meter di sepanjang 1,2 kilometer
disediakan tempat duduk yang berpayung pohon rimbun. Di situlah
biasanya para pejalan kaki, pembelanja, dan juga pekerja istirahat
sejenak melepas lelah.
Wahyuni Kamah
Pelancong, sedang berada di Jerman.
|